1. Gaya Bahasa Perulangan
A. Aliterasi
Aliterasi ialah sejenis gaya
bahasa yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata,
biasanya terjadi pada puisi.
·
Contoh: Kau keraskan kalbunya
Bagai
batu membesi benar
Timbul
telangkai bertongkat urat
Ditunjang
pengacara petah pasih
B. Asonansi
Asonansi ialah sejenis gaya
bahasa refetisi yang berjudul perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa
kata. Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan.
·
Contoh: Segala ada menekan dada
Mati
api di dalam hati
Harum
sekuntum bunga rahasia
Dengan
hitam kelam
C. Antanaklasis
Antanaklasis ialah sejenis gaya
bahasa yang mengandung perulangan kata dengan makna berbeda.
Contoh: Karena buah penanya itu
menjadi buah bibir orang.
D. Kiasmus
Kiasmus ialah gaya bahasa yang
berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan
antara dua kata dalam satu kalimat.
·
Contoh: Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan
yang salah.
E. Epizeukis
Epizeukis ialah gaya bahasa
perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang dipentingkan diulang
beberapa kali berturut-turut.
·
Contoh: Ingat kami harus bertobat, bertobat,
sekali lagi bertobat.
F. Tautotes
Tautotes ialah gaya bahasa
perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam sebuah
konstruksi.
Contoh: Aku adalah kau, kau
adalah aku, kau dan aku sama saja.
G. Anafora
Anafora ialah gaya bahasa
repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat.
Contoh: Kucari kau
dalam toko-toko.
Kucari kau karena cemas karena
sayang.
Kucari kau karena sayang karena
bimbang.
Kucari kau karena kaya mesti
diganyang.
H. Epistrofa (efifora)
Epistrofa ialah gaya bahasa repetisi
yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan.
·
Contoh: Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau
tidur.
·
Aku mencercah daging ketika kau tidur.
I. Simploke
Simploke ialah gaya bahasa
repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris (kalimat secara
berturut-turut).
·
Contoh: Ada selusin gelas ditumpuk ke atas.
Tak pecah.
·
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
·
Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak
pecah.
J. Mesodiplosis
Mesodiplosis ialah gaya bahasa
repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau
kalimat secara berturut-turut.
·
Contoh: Pendidik harus
meningkatkan kecerdasan bangsa.
·
Para dokter harus meningkatkan kesehatan
masyarakat.
K. Epanalepsis
Epanalepsis ialah gaya bahasa
repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada akhir baris, klausa, atau
kalimat.
·
Contoh: Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.
L. Anadiplosis
Anadiplosis ialah gaya bahasa
repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi
kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat berikutnya.
·
Contoh: Dalam raga ada darah
·
Dalam darah ada tenaga
·
Dalam tenaga ada daya
·
Dalam daya ada segalanya
2. Gaya
Bahasa Perbandingan
Ø Perumpamaan
Perumpamaan ialah padanan kata
atau simile yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini
ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana,
serupa.
·
Contoh: Seperti air dengan minyak.
Ø Metafora
Metafora ialah gaya bahasa yang
membandingkan dua hal secara implisit.
·
Contoh: Aku adalah angin yang kembara.
Ø Personifikasi
Personifikasi ialah gaya bahasa
yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa
ataupun pada ide yang abstrak.
·
Contoh: Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.
Ø Depersonifikasi
Depersonifikasi ialah gaya bahasa
yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada manusia atau insan.
Biasanya memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau, misalkan, bila,
seandainya, seumpama.
·
Contoh: Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.
Ø Alegori
Alegori ialah gaya bahasa yang
menggunakan lambang-lambang yang termasuk dalam alegon antara lain:
·
Fabel, contoh: Kancil dan Buaya
·
Parabel, contoh: Cerita Adam dan Hawa
Ø Antitesis
Antitesis ialah gaya bahasa yang
mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.
·
Contoh: Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.
Ø Pleonasme
dan Tautologi
Pleonasme adalah penggunaan kata
yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu. Contoh: Capek mulut saya berbicara.
Tautologi adalah gaya bahasa yang
menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan
terdahulu. Contoh: Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?
Ø Perifrasis
Perifrasis ialah gaya bahasa yang
dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya dapat diganti
dengan sebuah kata saja.
·
Contoh: Wita telah menyelesaikan sekolahnya tahun
1988 (lulus).
Ø Antisipasi
(prolepsis)
Antisipasi ialah gaya bahasa yang
dalam pernyataannya menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih
akan dikerjakan atau akan terjadi.
·
Contoh: Aku melonjak kegirangan karena aku
mendapatkan piala kemenangan.
Ø Koreksio
(epanortosis)
Koreksio ialah gaya bahasa yang
dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu. Namun, kemudian
memeriksa dan memperbaiki yang mana yang salah.
·
Contoh: Silakan Riki maju, bukan, maksud saya
Rini!
3.Gaya Bahasa Pertentangan
Ø Hiperbola
Hiperbola ialah gaya bahasa yang
mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun
sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
·
Contoh: Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh
dunia.
Ø Litotes
Litotes ialah majas yang berupa
pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
·
Contoh: Apa yang kami berikan ini memang tak
berarti buatmu.
Ø Ironi
Ironi ialah gaya bahasa yang
berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.
·
Contoh: Bagus benar rapormu Bar, banyak merahnya.
Ø Oksimoron
Oksimoron ialah gaya bahasa yang
berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung pertentangan dengan menggunakan
kata-kata yang berlawanan dalam frase atau dalam kalimat yang sama.
·
Contoh: Olahraga mendaki gunung memang menarik
walupun sangat membahayakan.
Ø Paronomosia
Paronomasia ialah gaya bahasa
yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya,
tetapi berlainan maknanya.
·
Contoh: Bisa ular itu bisa masuk ke sel-sel darah.
Ø Zeugma
dan Silepsis
Zeugma ialah gaya bahasa yang
menggunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan
dua atau lebih kata lain. Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahkan
kedua kata berikutnya sebenarnya hanya cocok untuk salah satu dari padanya.
·
Contoh: Kami sudah mendengar berita itu dari radio
dan surat kabar.
Dalam silepsis kata yang
dipergunakannya itu secara gramatikal benar, tetapi kata tadi diterapkan pada
kata lain yang sebenarnya mempunyai makna lain.
·
Contoh: Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Ø Satire
Satire ialah gaya bahasa sejenis
argumen atau puisi atau karangan yang berisi kritik sosial baik secara
terang-terangan maupun terselubung.
·
Contoh: Jemu aku
dengan bicaramu.
·
Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan
·
Sudah sepuluh tahun engkau bicara
·
Aku masih tak punya celana
·
Budak kurus pengangkut sampah
Ø Inuendo
Inuendo ialah gaya bahasa yang
berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
·
Contoh: Dia memang baik, cuma agak kurang jujur.
Ø Antifrasis
Antifrasis ialah gaya bahasa yang
berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran
dengan menyatakan kebalikan dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya
sebuah kata saja yang menyatakan kebalikan itu.
·
Contoh Antifrasis: Lihatlah sang raksasa telah
tiba (maksudnya si cebol).
·
Contoh ironi: Kami tahu bahwa kau memang orang
yang jujur sehingga tak ada satu orang pun yang percaya padamu.
Ø Paradoks
Paradoks ialah gaya bahasa yang
mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
·
Contoh: Teman akrab adakalanya merupakan musuh
sejati.
Ø Klimaks
Klimaks ialah gaya bahasa yang
berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin
meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya.
·
Contoh: Hidup kita diharapkan berguna bagi
saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.
Ø Anti
klimaks
Antiklimaks ialah suatu
pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang
penting hingga yang kurang penting.
·
Contoh: Bahasa Indonesia diajarkan kepada
mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.
Ø Apostrof
Apostrof ialah gaya bahasa yang
berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir.
·
Contoh: Wahai dewa yang agung, datanglah dan
lepaskan kami dari cengkraman durjana.
Ø Anastrof
atau inversi
Anastrof ialah gaya bahasa
retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau
mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis.
·
Contoh: Diceraikannya istrinya tanpa setahu
saudara-saudaranya.
Ø Apofasis
Apofasis ialah gaya bahasa yang
berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru
menegaskannya.
Contoh : Sebenarnya saya tidak
sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.
Ø Histeron
Proteran
Histeron Proteran ialah gaya
bahasa yang isinya merupakan kebalikan dari suatu yang logis atau kebalikan
dari sesuatu yang wajar.
Contoh : Jika kau memenangkan
pertandingan itu berarti kematian akan kau alami.
Ø Hipalase
Hipalase ialah gaya bahasa yang
berupa sebuah pernyataan yang menggunakan kata untuk menerangkan suatu kata
yang seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang lain.
·
Contoh: Ia duduk pada bangku yang gelisah.
Ø
Sinisme
Sinisme ialah gaya bahasa
yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan
terhadap keikhlasan atau ketulusan hati.
·
Contoh: Anda benar-benar hebat sehingga pasir di
gurun sahara pun dapat Anda hitung.
Ø Sarkasme
Sarkasme ialah gaya bahasa yang
mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.
·
Contoh: Kau memang benar-benar bajingan.
4.
Gaya Bahasa Pertautan
Ø Metonimia
Metonimia ialah gaya bahasa yang
menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu
sendiri.
·
Contoh: Parker jauh lebih mahal daripada pilot.
Ø Sinekdoke
Sinekdoke ialah gaya bahasa
yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri.
·
Contoh Sinekdoke pars pro toto: Lima ekor kambing
telah dipotong pada acara itu.
Contoh Sinekdoke totem pro parte:
Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu lawan Malaysia.
Ø Alusio
Alusia ialah gaya bahasa
yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu pristiwa atau tokoh
yang telah umum dikenal/ diketahui orang.
·
Contoh: Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi
di sini?
Ø Eufimisme
Eufimisme ialah ungkapan yang
lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap
merugikan atau yang tidak
menyenangkan.
·
Contoh: Tunasusila sebagai pengganti pelacur.
Ø Eponim
Eponim ialah gaya bahasa
yang menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat
tertentu
sehingga nama itu dipakai untuk
menyatakan sifat itu.
Contoh: Dengan latihan yang
sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.
Ø Antonomasia
Antonomasia ialah gaya
bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai
pengganti nama diri.
·
Contoh: Kepala sekolah mengundang para orang tua
murid.
Ø Epitet
Epitet ialah gaya
bahasa yang berupa keterangan yang menyatakan sesuatu sifat atau ciri yang khas
dari
seseorang atau suatu hal.
·
Contoh: Putri malam menyambut kedatangan remaja
yang sedang mabuk asmara.
Ø Erotesis
Erotesis ialah gaya bahasa
yang berupa pertanyaan yang tidak menuntut jawaban sama sekali.
·
Contoh: Tegakah membiarkan anak-anak dalam
kesengsaraan?
Ø Paralelisme
Paralelisme ialah gaya
bahasa yang berusaha menyejajarkan pemakaian kata-kata atau
frase-frase yang
menduduki fungsi yang sama dan
memiliki bentuk gramatikal yang sama.
·
Contoh: + Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk,
tetapi juga harus diberantas.
–
Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk,
tetapi juga harus memberantasnya (Ini contoh yang tidak baik).
Ø Elipsis
Elipsis ialah gaya bahasa
yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau
beberapa
unsur penting dari suatu
konstruksi sintaksis.
·
Contoh: Mereka ke Jakarta minggu lalu (perhitungan
prediksi)Pulangnya membawa oleh-oleh banyak sekali (Penghilangan subyek).
o
Saya sekarang sudah mengerti ( Penghilangan
obyek).
o
Saya akan berangkat (penghilangan unsur
Keterangan).
o
Mari makan!(penghilangan subyek dan obyek).
Ø Gradasi
Gradasi ialah gaya bahasa yang
mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata) yang diulang dalam
konstruksi itu.
Contoh: Kita harus membangun,
membangun jasmani dan rohani, rohani yang kuat dan tangguh, dengan ketangguhan
itu kita maju.
Ø Asindeton
Asindenton ialah gaya
bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang
mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata
penghubung.
·
Contoh: Ayah, ibu, anak merupakan inti dari sebuah
keluarga.
Ø Polisindeton
Polisindenton ialah gaya bahasa
yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata
yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar